Minggu, 14 Agustus 2016


Aku dan mimpi-mimpiku.

Kamu harus percaya bahwa jika kamu menginginkan sesuatu, alam pasti berkonspirasi membantumu untuk menggapainya.


Mari kuceritakan sedikit untukmu tentang bagaimana mantra itu bekerja untukku.
Aku, pemimpi kecil yang memulai simpul benang pertama mimpiku disebuah sekolah terpencil di (nyaris) ujung nusantara, mereka sering menyebutnya terujung, terpencil, dan terbelakang, dan sekarang disinilah aku, daratan dengan luas terbesar dimuka bumi masih sama; merajut mimpi-mimpiku. Kalau kamu bertanya apakah pernah terlintas dibenakku aku akan menjalin simpul disini, sayang aku tak pernah. semesta berkonspirasi untuk ini, percayalah.. percayalah pada kekuatan mimpimu.

Sayang, kita semua pernah punya saat dimana kita bisa bermimpi dengan bebas, merangkai dongeng terindah yang pernah bisa kita bayangkan,dongeng tentang mimpi-mimpi dan kita yang jadi pemeran utamanya.

Sama sepertimu, aku juga mempunya mimpi-mimpi liar yang pernah ku utarakan dengan optimis kepada semesta bahwa aku akan mewujudkannya. Tak ada keraguan saat itu, bahkan aku merasa seperti melayang. Yah, ketika memikirkan kemungkinan mimpimenjadi kenyataan, rasanya hidup ini sangat sangat .. aku tak tahu, hmm..ringan.. bebas... jadinya lebih..menarik?
Tapi, tentunya kau tak mengharapkan cerita tentang 'membayangkan mimpi dan seketika tadaa~ terwujud' bukan? oke, mari kita lanjutkan.

Waktupun bergulir, jadi setelah membuat simpul pertamaku (jujur, aku sedikit kesusahan dengan simpulku dan yah.. simpul pertamaku tak begitu bagus) Aku berkenalan dengan-mari kita sebut saja- realita. biar kubilang padamu satu rahasia; Realita, tak pernah menampakan taring tajam yang dia sembunyikan dengan baik dibalik senyuman manis madu yang selalu terpasang diwajahnya. 

Dengan ekspresi menyenangkan dan bahasa tubuh bersahabat, tentu saja tak perlu waktu lama, untukku yang saat itu adalah gadis polos dan cerewet untuk meracau tentang mimpi-mimpiku untuknya, Aku begitu senang, dia selalu mendengarkan dengan sabar dan (seakan) selalu mengerti.  Sejak saat itu, kami berteman baik..

Realita selalu ada untukku. S mengulurkan tangan untukku bahkan saat aku belum sempat perpikir apakah aku butuh pertolongan.Terus seperti itu. dia memberikan arahan, saran-saran, dan tentu saja aku dengan senang hati menurutinya. Aku lambat laun menjadi terlalu terbiasa dan bergantung dengan eksistensinya, bersama dengannya seakan aku tak butuh apapun lagi. Dia disampingku, menyediakan semua yang aku inginkan. Mimpi-mimpi yang menunggu untuk diraih mulai aku lupakan, aku terlena dengan kenyamanan yang dia sediakan. Aku terbuai.

Ketika realita sudah yakin ini waktu yang pas dia dengan kejamnya menamparku dengan kegagalan. Bertubi-tubi.. berkali-kali. Tak perlu kau tanyakan bagaimana kondisiku saat itu.Aku jatuh, gagal. Saat-saat aku tertumpu pada bagian terpuruk hidupku, segala asumsi orang membutakanku  bagaimana tidak bergunanya aku, bagaimana aku tak lebih dari sampah yang hanya menguras oksigen di bumi ini. Aku sedih, Tersiksa dengan iri dengki dan sakit hati melihat orang berhasil dan aku? aku kini jauh dengan mimpi-mimpiku. Aku bahkan tak mengenal mereka lagi. Entah tentang mimpi atau bermimpi. Ini seperti kau disuntikkan keputus asaan yang menjalar disetiap peredaran darahmu. Ngilu, ngilu sekali.

Bagaimana dengan realita? Tentu saja dia akhirnya tersenyum  lebar. Menari-nari dibelakang, menertawai kebodohanku.. Misinya berhasil. Aku jatuh, aku roboh. Aku capek menengadahkan tangan pada orang-orang demi secuil pertolongan.Hah,orang-orang.. Tak usah kamu tanyakan lagi tentang orang-orang. Kamu bahkan tak usah capek-capek mengumpat mereka. Sayang, mereka tak peduli. Begini ya senangmu mungkin bisa kau bagikan untuk mereka tapi, susahmu itu masalahmu, deritamu.Sempat aku berpikir untuk hentikan saja denyut jantungku, supaya sakitnya berkesudahan. Tapi  sayang, aku tak ingin mengakhiri ceritaku seperti ini.

Susah payah, aku berusaha bangkit lagi. Belajar dari semua pelajaran berharga yang diajarkan realita (walaupun dengan cara yang buruk), aku lebih mahir menggunakan instingku. Bagaimana menghadapi godaan-godaan menggiurkan disetiap simpangan jalan menuju mimpiku atau menyikapi orang-orang munafik yang bukan hanya punya senyum manis madu tapi kata-kata memikat yang sebenarnya hanya berisi bisa mematikan. ini tidak mudah,pastinya.

Sayang, berkenalan dengan realita mungkin adalah saat-saat yang tak sanggup kau ingat; menderitanya dirimu, semua malam-malam tanpa tidur, hari-hari tanpa harapan, jerit tangisanmu...tapi, itulah cara semesta menyiapkanmu menggapai keberhasilanmu, bertemu mimpimu. Realita mencoret-coret atau memberikan kusut berbekas dilembaran dongengmu. Dia  dengan kasarnya mengoyak-oyak awal bab baru yang kamu susun dengan susah payah. Atau bahkan tanpa menyentuh dongengmu, dengan lidah tajam berbisanya.. rangkai katamu dia hina tanpa ampun.

Tapi sayang, senyumlah.. tanpa realita, kau tak akan tau kegagalan, perihnya putus asa, atau bagaimana kelam dan pahitnya kemunafikan dan tanpa semua itu mimpimu.. mimpimu tak bernilai. Kau tak akan kuat, kau tak akan menjadi pejuang hebat seperti sekarang. Tanpa semua itu keberhasilanmu tak ada harganya, kamu bisa saja tak jadi pemenang.

Sayang, kamu harus yakin, kita harus yakin..
kita akan menggenggamnya, semua mimpi-mimpi kita, ya! bahkan yang paling liar sekalipun. Itu jaminan semesta! Tetap semangat rajut benang-benang mimpimu, mungkin kau belum bertemu realitamu.. atau mungkin sudah? tapi kamu masih punya segudang mimpi bukan? tetap siap siaga, Realita-realita yang lebih ganas juga masih setia diasa..Eh, tapi setidaknya kamu sudah kiberitahu.. realita punya taring tajam dan ah, senyumnya begitu manis. tik-tok, jangan sampai lengah ya!


Selamat Malam, Selamat bermimpi.

anp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar