Aku dan mimpi-mimpiku.
Kamu harus percaya
bahwa jika kamu menginginkan sesuatu, alam pasti berkonspirasi membantumu untuk
menggapainya.
Mari kuceritakan
sedikit untukmu tentang bagaimana mantra itu bekerja untukku.
Aku, pemimpi kecil
yang memulai simpul benang pertama mimpiku disebuah sekolah terpencil di
(nyaris) ujung nusantara, mereka sering menyebutnya terujung, terpencil, dan terbelakang, dan sekarang disinilah aku, daratan dengan luas terbesar dimuka bumi masih sama; merajut mimpi-mimpiku. Kalau kamu bertanya apakah pernah terlintas dibenakku aku akan menjalin simpul disini, sayang aku tak pernah. semesta berkonspirasi untuk ini, percayalah.. percayalah pada kekuatan mimpimu.
Sayang, kita semua pernah punya saat dimana kita bisa
bermimpi dengan bebas, merangkai dongeng terindah yang pernah bisa kita
bayangkan,dongeng tentang mimpi-mimpi dan kita yang jadi pemeran utamanya.
Sama sepertimu, aku juga mempunya mimpi-mimpi liar yang pernah ku
utarakan dengan optimis kepada semesta bahwa aku akan mewujudkannya. Tak ada
keraguan saat itu, bahkan aku merasa seperti melayang. Yah, ketika memikirkan kemungkinan mimpimenjadi kenyataan, rasanya hidup ini sangat sangat
.. aku tak tahu, hmm..ringan.. bebas... jadinya lebih..menarik?
Tapi, tentunya kau tak mengharapkan cerita tentang 'membayangkan mimpi dan seketika tadaa~ terwujud' bukan? oke, mari kita lanjutkan.
Waktupun bergulir, jadi setelah membuat simpul pertamaku (jujur, aku
sedikit kesusahan dengan simpulku dan yah.. simpul pertamaku tak begitu bagus) Aku
berkenalan dengan-mari kita sebut saja- realita. biar kubilang padamu satu rahasia; Realita, tak pernah menampakan taring tajam
yang dia sembunyikan dengan baik dibalik senyuman manis madu yang selalu
terpasang diwajahnya.
Dengan ekspresi menyenangkan dan bahasa tubuh bersahabat, tentu saja tak perlu waktu lama, untukku yang saat itu adalah gadis
polos dan cerewet untuk meracau tentang mimpi-mimpiku untuknya, Aku begitu senang, dia selalu mendengarkan dengan sabar dan (seakan) selalu mengerti. Sejak
saat itu, kami berteman baik..
Realita selalu ada untukku. S mengulurkan tangan
untukku bahkan saat aku belum sempat perpikir apakah aku butuh pertolongan.Terus seperti
itu. dia memberikan arahan, saran-saran, dan tentu saja aku dengan
senang hati menurutinya. Aku lambat laun menjadi terlalu terbiasa dan
bergantung dengan eksistensinya, bersama dengannya seakan aku tak butuh apapun
lagi. Dia disampingku, menyediakan semua yang aku inginkan. Mimpi-mimpi yang
menunggu untuk diraih mulai aku lupakan, aku terlena dengan kenyamanan yang dia
sediakan. Aku terbuai.
Ketika realita sudah yakin ini waktu yang pas dia dengan kejamnya menamparku dengan kegagalan. Bertubi-tubi.. berkali-kali. Tak perlu kau tanyakan bagaimana kondisiku saat
itu.Aku jatuh, gagal. Saat-saat aku tertumpu pada bagian terpuruk hidupku, segala asumsi orang membutakanku bagaimana tidak
bergunanya aku, bagaimana aku tak lebih dari sampah yang hanya menguras oksigen
di bumi ini. Aku sedih, Tersiksa dengan iri dengki dan sakit hati melihat orang berhasil dan aku? aku kini jauh dengan mimpi-mimpiku. Aku bahkan tak mengenal
mereka lagi. Entah tentang mimpi atau bermimpi. Ini seperti kau disuntikkan
keputus asaan yang menjalar disetiap peredaran darahmu. Ngilu, ngilu sekali.
Bagaimana dengan realita? Tentu saja dia akhirnya tersenyum lebar. Menari-nari dibelakang, menertawai kebodohanku..
Misinya berhasil. Aku jatuh, aku roboh. Aku capek menengadahkan tangan pada orang-orang demi secuil pertolongan.Hah,orang-orang.. Tak usah kamu tanyakan lagi tentang
orang-orang. Kamu bahkan tak usah capek-capek mengumpat mereka. Sayang,
mereka tak peduli. Begini ya senangmu mungkin bisa kau bagikan untuk mereka tapi, susahmu itu
masalahmu, deritamu.Sempat aku berpikir untuk hentikan saja denyut jantungku, supaya
sakitnya berkesudahan. Tapi sayang, aku tak ingin mengakhiri
ceritaku seperti ini.
Susah payah, aku berusaha bangkit lagi. Belajar dari
semua pelajaran berharga yang diajarkan realita (walaupun dengan cara yang
buruk), aku lebih mahir menggunakan instingku. Bagaimana menghadapi godaan-godaan
menggiurkan disetiap simpangan jalan menuju mimpiku atau menyikapi orang-orang
munafik yang bukan hanya punya senyum manis madu tapi kata-kata memikat yang
sebenarnya hanya berisi bisa mematikan. ini tidak mudah,pastinya.
Sayang, berkenalan dengan realita mungkin adalah saat-saat yang tak sanggup kau ingat; menderitanya dirimu, semua malam-malam tanpa tidur, hari-hari tanpa harapan, jerit tangisanmu...tapi, itulah cara semesta menyiapkanmu menggapai keberhasilanmu, bertemu mimpimu. Realita mencoret-coret atau memberikan kusut
berbekas dilembaran dongengmu. Dia dengan kasarnya mengoyak-oyak awal
bab baru yang kamu susun dengan susah payah. Atau bahkan tanpa menyentuh dongengmu,
dengan lidah tajam berbisanya.. rangkai katamu dia hina tanpa ampun.
Tapi sayang, senyumlah.. tanpa realita, kau tak akan tau
kegagalan, perihnya putus asa, atau bagaimana kelam dan pahitnya kemunafikan
dan tanpa semua itu mimpimu.. mimpimu tak bernilai. Kau tak akan kuat, kau tak
akan menjadi pejuang hebat seperti sekarang. Tanpa semua itu keberhasilanmu tak
ada harganya, kamu bisa saja tak jadi pemenang.
Sayang, kamu harus yakin, kita harus yakin..
kita akan menggenggamnya, semua mimpi-mimpi kita, ya! bahkan yang paling liar sekalipun. Itu jaminan semesta! Tetap semangat rajut benang-benang mimpimu, mungkin kau belum bertemu realitamu.. atau mungkin sudah? tapi kamu masih punya segudang mimpi bukan? tetap siap siaga, Realita-realita yang lebih ganas juga masih setia diasa..Eh, tapi setidaknya kamu sudah kiberitahu.. realita punya taring
tajam dan ah, senyumnya begitu manis. tik-tok, jangan sampai lengah ya!
Selamat Malam, Selamat bermimpi.
anp